Showing posts with label my own mind. Show all posts
Showing posts with label my own mind. Show all posts

January 14, 2013

Turkey Trip: Terima kasih Naseer

Naseer, dia adalah seorang anak yang sangat pintar. Kami mengenalnya sewaktu mengunjungi Grand Bazaar. Hari itu hari Sabtu, dan dia bercerita bahwa dia ikut membantu pamannya berjualan di Bazaar setiap hari Sabtu, saat libur sekolah. Senin-Jumat dia harus sekolah, sedangkan hari Minggu Bazaar tutup. Dia berkata kepada kami, kalau mau bertemu dia lagi, kami harus datang di hari Sabtu. Pagi menjelang siang kali itu, aku mengajak Ayu untuk masuk ke Grand Bazaar. Aku sendiri sudah pernah melongok ke dalam sini sewaktu transit di istanbul tahun 2011. Kami masuk dari pintu utama di depan halte tram Beyazit. Begitu masuk, mata akan dimanjakan dengan kilauan warna warni berbagai macam barang yang dijual di dalam pasar ini. Mulai dari aksesoris wanita, berbagai macam sulaman khas Istanbul dalam bentuk sarung bantal kecil hingga besar, taplak meja, dan sprei. Tak ketinggalan lampu beraneka macam warna yang disebut dengan ‘Japanese lamp’. Entah kenapa mereka menyebutnya begitu, apa mungkin memang asal usul lampu ini dari negeri sakura? Entahlah. Tapi soal harga, yang di jual di dalam Grand Bazaar cenderung lebih mahal dibanding tempat lain. Misalnya saja kami pernah beli gantungan kunci seharga 1 TL di luar Grand Bazaar, tapi harga didalam bisa jadi 5 TL lho. Apa mungkin karena kalau di dalam mereka harus sewa tempat ya? Masuk akal juga sih.

Nah, di antara kekaguman kami melihat-lihat isi di dalam Grand Bazaar, tanpa sengaja kami melihat sosok Naseer. Dia sedang berdiri di depan toko pamannya yang menjual berbagai macam souvenir berupa kaos dengan berbagai ukuran. Kamipun mendekatinya dan pada waktu itu memang berniat membelikan kaos kecil untuk beberapa anak dari teman-teman di Innsbruck. Jadilah kami tertegun begitu disapa oleh Naseer, karena bahasa Inggris nya sangat lancar dengan artikulasi yang baik. Dia pun mempersilahkan kami masuk untuk melihat-lihat koleksi kaos yang mereka jual. Sembari memilih, kamipun mengobrol dan aku tentu saja tidak bisa tidak bertanya dan memuji baha Inggrisnya yang begitu bagus. Dia bercerita, bahasa inggris merupakan pelajaran favoritnya di sekolah dan selalu mendapat nilai bagus. Salah satu alasan dia ikut berjualan bersama pamannya adalah untuk mempraktikkan kemampuan bicaranya. Menurutku hal itu sangat membantu dan merupakan ide yang cerdas, terbukti dengan kemampuannya berbicara saat kami bertemu. Setelah selesai dia mengantarkan kami keluar toko dan berkata: "sampai jumpa lagi". Semoga suatu hari kita bisa berjumpa kembali ya. Terima kasih Naseer :)

Satu-satunya foto Naseer (kiri) yang aku punya

November 23, 2012

Happy Wedding my dear sister


Dear Ciplug,

Tak terasa penantian panjangmu akhirnya sampai pada saat ini, saat dimana dirimu akan menjadi yang halal untuknya, suamimu.
Sedih rasanya tak bisa hadir disana, menyaksikanmu bersanding, menyaksikan keanggunanmu dalam balutan baju pengantin.
Menyaksikan kebahagiaan keluargamu dan Himawan, melihat senyum di wajahmu duhai adikku.
Setetes air mata mengalir saat menuliskan ini untukmu, tapi percayalah itu adalah air mata bahagia.
Aku turut berbahagia disini, melihat mimpimu menjadi nyata.
Mengamini akad yang akan diucapkan Him, mendoakan kalian semoga akan selalu saling menjaga dan menyayangi.
Pahit manis perjalanan kalian sedikit banyak aku sudah menyaksikan sendiri.
Kuharap dimasa yang akan datang, di keluarga yang akan kalian bentuk, bahagia kan selalu hadir disana.
Bahagialah, buang sedihmu, karena kalian berhak untuk bahagia.
Aku disini berharap bisa memelukmu dan menemanimu menjalani hari-hari menuju acara.
Tapi apa daya jarak memisahkan kita.
Teriring doa semoga semua berjalan lancar dan titip salam untuk keluarga besar.
Aku bahagia dipertemukan denganmu, saudara yang selalu aku impikan.
Pada akhirnya walaupun tak ada ikatan darah, hal itu menjadi tak penting.
Karena hubungan ini apapun namanya, akan membawa kita menuju hidup yang lebih bahagia dan bermanfaat. Aamiin.



I love you my dear sister, Happy Wedding :)

October 02, 2012

Menjembatani rindu

Kalau sedang dilanda rindu, apa yang biasanya kamu lakukan? Kalau aku, seperti sekarang, sedang mendengarkan radio siaran dari kota tempat tinggalku. Entah kenapa hari ini merasa rindu sekali dengan keluarga di Indonesia. Ibu, Bapak, keluarga di Jogja, kucing-kucingku di rumah, dan juga sahabat-sahabatku. Selain itu mengobati rasa rindu tentu saja bisa langsung diungkapkan, misalnya dengan telfon langsung atau mengirim pesan singkat ke orang yang dituju. Padahal setiap hari aku selalu berkirim pesan dengan ibu, dan hampir setiap minggu  menelepon. Tapi tetap saja rasa rindu itu tak terbendung, tak bisa disembunyikan. Apalagi jika tinggal jauh dari mereka, bahkan terpisah lautan dan benua. 

Menjembatani rindu juga bisa dilakukan dengan berinteraksi melalui media sosial yang sekarang ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melihat foto-foto yang diunggah oleh teman-teman akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Membaca curahan isi hati mereka, mengetahui apa yang sedang mereka lakukan dan dimana mereka berada. Seakan tak ada pembatas jarak dan waktu jika sudah terhubung media sosial ini. Namun bagiku, tentu saja ada dua konsekuensi atas aktivitas ini, yang pertama bisa mengobati rindu atau malah akan memperkeruh rasa rindu itu. Memperkeruh dalam artian karena pada kenyataannya aku hanya bisa melihat dan mendengar mereka dari jauh. Tapi tetap saja itu menjadi hiburan tersendiri.

Kalau kamu, bagaimana caramu menjembatani rindu?

September 24, 2012

Kualitas atau kuantitas?


Surfing di Lampung? Wow, begitu ujarku pada seorang teman ketika dia mengutarakan rencananya untuk pergi ke Indonesia bulan depan. Padahal waktu liburnya hanya 2 minggu, terlalu singkat pikirku. Akan tetapi di berkata bahwa sudah rindu berselancar di Indonesia. Duapuluh tahun lalu dia sempat tinggal di Indonesia selama beberapa waktu, di daerah Mentawai. Maka dari itu dia bisa sedikit berbahasa Indonesia juga. Tujuan utamanya kali ini adalah Kota Krui di pantai barat Lampung. Dia bilang bahwa disini ada beberapa pantai yang bagus dan ombaknya cocok untuk berselancar. Aku pernah mendengar cerita dari beberapa teman backpackers bahwa memang pantai barat lampung itu indah dan menjadi destinasi selancar yang baru selain Pulau Bali.

Alhasil karena harus menjelajah daerah dengan transportasi umum yang kurang memadai, dia memutuskan untuk menyewa mobil. Kemarin kami bertemu untuk makan siang dan membahas hal ini. Akupun minta bantuan kepada teman-temanku di Indonesia siapa tahu mereka mempunyai informasi tentang sewa mobil di kota Bandar Lampung. Temanku ini (sebut saja Matt) akan terbang dari Dusseldorf (Jerman) ke Jakarta, dan kemudian dari Jakarta ke Bandar Lampung. Dia akan menginap sehari di Bandar Lampung untuk mengurus persiapan keliling pantai barat. Dia akan berangkat bersama istri dan anak mereka, juga satu teman dari Jerman. Aku selalu kagum dengan cara berlibur orang Jerman dan Austria, karena kebanyakan dari mereka lebih mementingkan kualitas liburan daripada kuantitas. Maksudku,  ada kecenderung lebih mementingkan kuantitas, berapa banyak kota yang sudah dikunjungi. Tapi berbeda dengan orang Austria, mereka biasanya sudah punya tema tertentu saat liburan. Misalnya selancar, trekking, hiking, bersepeda, naik kano dan lain-lain. Jadi bukan hanya keliling kota-kota besar saja tapi juga menjelajah daerah-daerah terpencil. Mungkin bagiku yang orang Indonesia asli, terkadang menjelajah sudut-sudut negeri ini bisa lebih sulit dibandingkan dengan bila kita pergi ke luar negeri. Alasan utama biasanya transportasi yang belum memadai, dan karena itu biaya nya pun jadi mahal. Ada beberapa tempat yang akan lebih murah dikunjungi apabila biaya transportasi ditanggung beramai-ramai. Tapi terkadang tidak mudah mencocokkan jadwal dengan teman-teman jika ingin pergi bersama. Sampai saat ini, hal itu masih menjadi kendala bagiku. Seoga suatu hari keinginan untuk menjelajah sudut-sudut indonesia bisa terwujud. 

July 24, 2012

Puasa Hari 1


Puasa hari pertama mengikuti jadwal di Austria yaitu pada hari Jumat. Bangun di pagi hari itu membutuhkan komitmen dan keinginan yang tinggi. Sebelum Subuh yaitu jam 03.43 harus sudah menyelesaikan sahur. Hari pertama sahur dengan roti gandum, satu buah pisang dan segelas susu coklat. Cukuplah untuk menahan lapar selama puasa yang harus ditempuh 17-18 jam. Tidak ada kumandang Imsak seperti yang biasa kudengar di masjid dekat rumah (di Jogja). Berbekal jadwal puasa dari website islamic finder, akupun harus mengatur jadwal sendiri. Alhamdulillah hari itu puasa lancar. Sorenya aku dan beberapa teman berjanji untuk mengikuti acara buka puasa di masjid Turki. 

Hujan lumayan deras tak menghentikan langkah kakiku untuk berjalan ke masjid yang jaraknya sekitar 15 menit dengan jalan kaki. Kami bertemu sebelum waktu berbuka tiba, sekitar jam 21. Ketika tiba di masjid, antrian di bagian laki-laki terlihat sudah ramai. Kami yang perempuan bergegas menuju lantai dua dimana biasanya jamaah perempuan berkumpul. Tak begitu banyak perempuan yang hadir hari itu, hanya ada tiga orang ibu-ibu dan lima orang remaja, ditambah tiga orang Indonesia yaitu aku, Sarrah dan mbak Nina. Namun walaupun sedikit, tak mengurangi hikmat dan niat untuk saling berbagi di hari pertama Ramadhan ini. Sembari menunggu waktu berbuka, beberapa remaja menyiapkan hidangan yang terdiri dari air mineral, kurma, salat sayuran, sup lentil, nasi dan lauknya berupa daging sapi yang dimasak dengan kentang dan beberapa sayuran lain. Selain itu yang khas dari hidangan ala Turki ini adalah roti. Ya, bentuknya bulat, ukurannya besar, biasanya sebelum dihidangkan terlebih dahulu dibagi menjadi empat bagian supaya mudah dimakan. Aku lupa menanyakan apa nama roti ini, tapi ini adalah makanan yang wajib ada dalam hidangan mereka. Walaupun sudah ada nasi, tapi kehadiran roti ini selalu saja harus menjadi pelengkap.  

Alhamdulillah adzan Maghrib pun berkumandang, kamipun membatalkan puasa dengan terlebih dahulu minum air dan makan sebutir kurma. Kemudian sup lentil dihidangkan dan dimakan dengan salat sayuran. Setelah itu barulah nasi dan lauk utama dihidangkan, dan dimakan bersama roti. Terasa berbeda buka puasa kali ini, seperti yang kuceritakan sebelumnya, inilah puasa pertama yang kujalani di negeri orang dan jauh dari keluarga. Tapi aku bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan di tengah musim panas di kota ini. Muslim dari Turki sangat baik, mereka selalu menanyakan darimana kami berasal, dan akan senang sekali ketika mendapatkan jawaban bahwa Indonesia adalah negara kami. Aahhh, Indonesia. Begitu biasanya reaksi mereka sambil tersenyum. Entah karena Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah umat muslim yang banyak, seperti Turki. Setelah menyelesaikan berbuka, kami pun mengikuti imam untuk segera melaksanakan solat maghrib. Dalam sujudku, ada rasa sedih. Tak terasa air mata menetes dalam doa yang kupanjatkan selesai solat. Teringat kedua orangtuaku yang harus melewatkan bulan puasa yang kesekian tanpa kehadiran anaknya. Teringat Jogja dan keluarga, dimana biasanya aku melewatkan hari-hari pertama bulan puasa sejak tahun 2001 bersama Om, bulik dan sepupuku. Sahur bersama adalah saat-saat yang menggembirakan bagiku. Bulik yang dengan sabar membangunkanku jika aku terlambat, dan setelah itu dia akan membangunkan sepupuku yang biasanya bangun paling akhir. Ah, semoga tahun depan aku sudah bisa berkumpul lagi dengan mereka. 

Selepas solat Magrib, kamipun mohon diri untuk segera pulang, karena sudah jam sepuluh malam. Tak lupa kami mengucapkan terimakasih atas kebaikan hati para ibu dan remaja Turki yang sudah menerima kami untuk berbuka puasa bersama. Hujan tak lagi turun, tapi dingin masih menyergap. Kurapatkan jaketku dan mulai berjalan pulang. Semoga puasa hari ini Engkau terima Ya Allah.

July 03, 2012

Kapan??


kapan nikah? kapan nyusul? kapan ngundang?
pertanyaan-pertanyaan serupa ini yang kini kerap berseliweran di depan kupingku
Ya, kutulis hanya berseliweran di depan kuping karena aku sendiri nggak pernah pengin menyimpannya
anggap aja angin lalu
trus kenapa? hey bukannya aku nggak mau menikah
perempuan mana di dunia ini yang nggak mau jadi seorang istri dan juga ibu
tapi tak semua kondisi orang sama kan?
ada yang ketemu jodohnya di usia muda, ada yang harus menunggu agak lama bahkan lama sekali baru dipertemukan dengan jodohnya
untuk aku pribadi, sama sekali nggak terganggu
biar aja kalo ada yang nanya ya ditanggapi
misalnya "iya belum nih, doakan ya" atau "iya nih, cariin dong"
kenapa aku ngomong begitu? karena memang belum ada calonnya
mau gimana coba?

kadang aku justru kasian sama orang tua atau keluargaku yang lain
mereka yang justru kena imbasnya karena aku yang belum juga menikah di usia ini
semoga mereka tetap bisa mengerti keadaan ku dan mendukungku
karena bagiku, hanya mereka yang mengerti

aku nggak tau apa intensitas orang-orang yang sukanya bertanya seperti itu
apakah ada hubungannya dengan jalan hidup mereka kalau misalnya aku menikah?
apakah dengan aku menikah bisa mengubah kehidupan mereka?
nggak juga kan? trus apa tujuannya? hanya basa-basi? mending nggak usah deh
udah buang energi, bikin orang yang ditanya sakit hati, dll

mungkin banyak juga yang mengalami kayak aku
umur sudah dianggap dewasa dan ideal untuk menikah
tapi belum ada tanda2 ke arah sana
apalagi sekarang aku malah sedang menempuh pendidikan lanjutan
tambah banyak tuh yang komentar di luar sana
bilang inilah, itulah
but anyway, terima kasih banyak buat yang sudah peduli denganku
terima kasih sudah sudi menanyakan pertanyaan itu
doakan saja semoga secepatnya aku bisa dipertemukan dengan seseorang
yang aku yakin adalah jodoh dariNya
karena menikah bukanlah suatu jalan untuk memuaskan keinginan banyak pihak
tapi menikah adalah proses hidup yang harus dijalani, proses menuju kedewasaan
belajar berbagi, mengatur rumah tangga, mengendalikan ego dan emosi
menjalani hidup dengan lebih bahagia

kutulis ini bukan untuk memprotes balik orang-orang yang bertanya kepadaku
tapi kutulis ini sebagai motivasi untuk diriku sendiri
agar kelak suatu hari aku bisa membuka dan mengingat apa yang kurasakan sekarang
hanya Engkau saja tempatku berlindung

April 19, 2012

Cerita masa kecilku


Tahun 1990 adalah kali pertama kami sekeluarga menginjakkan kaki ke salah satu pulau di bagian timur Sumatera, yang bernama Pulau Bangka. Waktu itu Bangka dan Belitung masih merupakan kabupaten di bawah Propinsi Sumatera Selatan yang ibukotanya adalah Palembang. Namun sekarang, Bangka Belitung sudah berkembang menjadi satu provinsi tersendiri dengan ibukota Pangkal Pinang. Aku masih ingat waktu itu, kami naik bis ALS (Antar Lintas Sumatera) yang bertolak dari Jakarta menuju Palembang. Umurku sekitar 6 tahun. Jalanan yang kami lewati tidaklah semulus saat ini, menyebabkan waktu tempuh pun masih lebih lama dibanding sekarang. Tapi tetap saja aku menikmati, karena inilah perjalanan jauh yang kutempuh pertama kali. Sampai di Palembang, kami menginap beberapa hari di rumah saudara dari bapak. Ya, karena bapak lahir dan besar di Sumatera Selatan, tepatnya di kota Baturaja. Kota ini berjarak tempuh sekitar 5 jam dari kota Palembang ke arah selatan. Malah justru lebih dekat dengan Kotabumi, salah satu kota di Provinsi Lampung.

Untuk mencapai Pulau Bangka, kami masih harus menyebrang menggunakan kapal kayu. Ukurannya bisa dibilang besar karena bisa menampung lebih dari 100 orang dan juga kendaraan berupa mobil dan motor. Butuh waktu sekitar lebih dari 5 jam waktu itu, tapi aku lupa tepatnya. Yang masih aku ingat,  kapal sempat karam hampir satu jam. Karena air laut surut dan kapal tak bisa bergerak sama sekali. Dasar laut terlihat jelas dengan segala kehidupannya, ikan dan terumbu karang. Syang waktu itu belum ada kamera digital, jadi tak ada jejak sama sekali. Tapi masih jelas tersimpan dalam ingatanku. Kami berdoa, supaya air segera pasang dan kapal bisa kembali berlayar. Akhirnya setelah menunggu, doa kami dikabulkan. Sampailah kapal ke dermaga kota Muntok. Kota inilah yang merupakan jalan masuk utama ke Pulau Bangka. Semua kapal penumpang melempar jangkar disini. Pun sampai sekarang, pelabuhan Muntok masih digunakan dan tertata semakin rapi untuk melayani penumpang.

Tujuan kami bukanlah Muntok, melainkan satu kota bernama Sungailiat. Untuk menuju kota ini membutuhkan waktu lima sampai enam jam dengan menumpang bis kayu atau akrab disapa Pownis oleh masyarakat setempat. Pownis ini tak ubahnya sebperti bis biasa, dengan kapasitas tempat duduk sekitar 50 orang. Pintu hanya ada empat, satu pintu di sebelah kanan untuk supir, dan tiga di sebelah kiri untuk penumpang. Jangan tanya bagaimana senangnya aku waktu itu, karena penampakan bis ini agak berbeda dengan bis yang ada di Yogyakarta. Setelah beberapa waktu, sampai juga kami di kota Sungailiat. Kamipun menuju rumah salah satu saudara bapak yang bersedia menampung untuk sementara waktu. Karena waktu itu bapak belum mendapatkan rumah kontrakan. Rasa senang karena bertemu saudara pun membuncah. Saudara bapak ini adalah suami istri dengan enam orang anak. Aku memanggil mereka dengan sebutan Uwak laki (paman laki-laki) dan uwak bini (bibik perempuan). Anak mereka terdiri dari empat orang laki-laki dan dua orang perempuan. Karena belum bisa berbahasa daerah, maka komunikasi pun berlangsung dalam bahasa Indonesia. Jadi tak ada kendala tentu saja. Kami patut berterimakasih kepada para pejuang dan cendikiawan yang dulu telah merumuskan satu bangsa, satu bahasa, Bahasa Indonesia.

Aku waktu itu masih kelas satu SD sewaktu bapak dan ibu mengajakku untuk berpindah tinggal. Kakek sempat tidak menyetujui karena jarak yang terlalu jauh. Beliau menghendaki aku, cucu pertamanya, untuk tetap tinggal di Jogja. Tapi ibu bersikeras aku harus ikut bersama mereka. Karena bagaimanapun mereka adalah orangtuaku. Akhirnya kakek mengijinkan dan kamipun benar-benar pindah. Sempat sedih karena harus meninggalkan tanah kelahiranku, teman-teman sepermainan sewaktu TK dan juga SD yang baru kutempuh setahun. Tapi namanya anak kecil, sedih dan bahagia kadang tak ada batas waktunya. Sebentar sedih karena suatu hal, di lain waktu sudah kembali ceria.

Beberapa waktu setelah kami tinggal di rumah uwak, bapak pun akhirnya mendapatkan kontrakan. Letaknya agak jauh dari rumah uwak, tapi karena Sungailiat adalah kota kecil maka jauh pun tak terasa jauh karena masih masuk ke lingkungan dalam kota. Selama tinggal di rumah uwak, aku merasa gembira karena ada keenam saudaraku disana yang rata-rata tidak jauh berbeda umurnya denganku. Bang Dian si sulung dan Yuk Shinta (nomor dua), waktu itu sudah duduk di bangku SMP. Abang (laki-laki) dan Ayuk (perempuan)merupakan panggilan untuk kakak disini. Mereka semua baik dan ramah, aku pun merasa betah bermain dengan mereka. Kalau tidak salah waktu itu sedang liburan antar catur wulan, jadi waktu kami habiskan untuk bermain bersama.

Kontrakan yang didapatkan oleh bapak ukurannya tidak terlalu besar. Rumah itu berdempetan di kanan kiri dengan rumah-rumah lain dalam satu kompleks. Sebutannya adalah bedeng, karena ada sekitar 15 rumah dalam area ini. Bedeng ini kepunyaan suami istri yang juga tinggal disini. Kami memanggilnya Nek Ya. Rumah kami ini hanya punya satu jendela dan satu pintu, merupakan akses utama masuk ke rumah dari bagian depan. Dilengkapi dengan satu kamar tidur, satu dapur dan satu ruang tamu. Bagiku cukup sempit untuk ditinggali kami bertiga. Oh iya, kamar mandi dan WC tidak termasuk dalam rumah. Kami harus berbagi dengan beberapa warga bedeng yang lain. Lokasinya tidak terlalu jauh di depan rumah. Kalau mau ke WC, harus membawa ember berisi air dan juga gayungnya. Pengaturan ini supaya WC jadi lebih bersih dan juga teratur. 

Tak berapa lama waktu liburan pun berakhir. Ibu sudah mendaftarkan aku di sekolah SD yang kebetulan berada sangat dekat dengan bedeng. Hal ini tentu saja membuatku senang, karena selama 5 tahun kedepan aku tak perlu berjalan jauh untuk pergi ke sekolah. Sebenarnya ada dua SD yang berdekatan, tapi ibu memilih untuk mendaftarkanku di SDN 8, sedangkan yang satu lagi adalah SDN 405 atau sering disebut SD bertingkat (karena bangunannya tingkat 2). Entah apa alasannya, kupikir karena SD bertingkat sudah penuh siswanya, jadi tidak menerima siswa pindahan dari luar daerah. Tapi aku tak menyesal dengan pilihan ibu, karena di SD 8 inilah hari-hari bahagiaku dimulai. Pun sampai saat ini, aku bersyukur telah dipertemukan dengan mereka, teman-temanku.

-bersambung-

March 15, 2012

Kursi taman

Ketika matahari perlahan memudar sinarnya, satu per satu kerumunan itupun lenyap dan kursi taman pun kembali berderet kosong. Namun mereka tetap setia disana, menanti siapapun yang menyandarkan diri padanya di esok hari. Entah sekedar melepas lelah, atau mengusir sepi dengan berteman buku di tangan. Siapapun itu, mereka tak pernah memilih siapa yang boleh dan tidak boleh mendudukinya. Bahkan terkadang manusia yang tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol, mereka tetap menerimanya. Apakah kita sebagai manusia justru harus belajar pada mereka? Pada deretan kursi taman yang berderet mesra, tanpa kuasa untuk menghakimi siapapun yang mendudukinya. Mereka tak punya nyawa, tapi masih ada pelajaran berharga yang bisa kita maknai dari wujudnya. 

January 13, 2012

Goresan awal tahun

Sudah hampir 5 bulan ternyata diriku tak menyapamu wahai blog ku tercinta. Dari Oktober 2011 hingga pergantian tahun sekarang sudah Januari 2012. Ada apa ya diantara bulan-bulan itu?

Yang jelas bulan oktober lalu sempat mengunjungi dua kota di utara Austria bersama mb Emma. Kemudian tak lama Mba Tuti dan Sarrah datang untuk pertama kalinya ke Innsbruck di pertengahan Okober. Disusul Syamsul dan Mba Nina sekitar akhir November. Jadilah Innsbruck ramai untuk sesaat. 
Beberapa kali aku dan teman-teman berkumpul bersama, entah itu di rumah bu Jenny, atau ditempat Ganesh dan mas Deni. 

Suasana masih saja sama, hanya musim yang terus berganti. Sekarang di Januari, kembali bisa menjumpai salju. Salju yang selalu penuh makna dan arti dalam diamnya. Yang setia menemani manusia yang mendiami lembah Innsbruck ini. Dengan segala kekaguman, dengan segala keriangan karena mereka bisa kembali menikmati olahraga musim dingin dari snowboard, ski sampai rodeln (seluncur). Dari umur 3 tahun (rata-rata) anak di Innsbruck sudah diajari untuk bermain ski. Jadilah pada usia belasan banyak dari mereka yang sudah ahli melenggak-lenggok di salju mengikuti alur. Sedangkan untuk manusia tropis seperti aku dan teman-teman lain, belajar ski adalah sesuatu yang boleh dibilang penuh tantangan. Dari mulai menyiapkan kostum, karena tidak semua perlengkapan ski bisa disewa di resort ski tertentu. Mereka hanya menyewakan papan, kacamata, sepatu dan tongkat ski. Sedangkan jaket dan celana ski harus kepunyaan pribadi. Bisa sih pinjam dari teman lain yang ukurannya sama, tapi rada sulit juga. Akhirnya setelah 2 tahun bermukim disini pun, kecil sekali keinginan untuk bisa belajar mengendalikan tongkat dan papan ski. Ah, biarlah waktu yang menjawab. Jikapun ada kesempatan, pastinya tak akan kusiakan.

Awal Januari tepatnya tanggal 8 dan 9 lalu, mba Tutik dan mba Emma kembali ke tanah air tercinta. Menyisakan kami bersembilan yang masih harus melanjutkan perjuangan disini. Berusaha untuk tidak menitikkan air mata ketika melihat mereka pergi, karena kutahu suatu hari pasti akan bertemu kembali. 

Tahun berganti, 2012 semoga menjadi awal yang baik untuk kehidupan selanjutnya. Ingin menjadi manusia yang selalu mengingatNya dalam setiap hembusan nafas, ingin membahagiakan kedua orang tua, ingin melihat senyum bahagia keluarga besar di Jogja, dan masih ingin menjelajahi setiap jengkal bumi Allah ini. 

Ayo melangkah, bersama senyum dan harapan, bahwa suatu hari semua orang berhak bahagia, termasuk diriku...


September 25, 2011

Gembulku, selamat jalan

membayangkan tubuhnya yang lemah terkulai
aku hanya bisa menangis sesenggukan tanpa daya
mengingat kelucuannya, tingkah polahnya, wajah bulat mungilnya dengan perut yang membulat pula
jika dia lewat di depan mata, hati tak kuasa untuk memegang dan mengelus punggungnya dengan gemas
walau hanya sesaat bersamanya, tak lebih dari seminggu
namun hati ini telah tertambat padanya
sehingga saat menerima kabar ini, yang terlintas dibenakku hanyalah kesedihan yang mendalam
bergegas aku mencari foto-fotonya yang tersimpan rapi di memori telepon genggamku
Ya Allah, semakin deras airmata ini
aku tak mampu menahan kesedihan atas kepergiannya yang begitu mendadak
sebuah mobil menabraknya hingga dia tak mampu bertahan
membayangkan tubuh putih abu-abunya bersimbah darah, hamba tak kuasa menahan tangis Ya Rabb
memang dia adalah kucing kesayangan keluarga kami, dia bukan manusia
tapi bagi kami dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini
dia telah hadir mengisi hari-hari kami dengan kelucuannya
dia yang tak pernah bersuara kecuali dipaksa dengan menggendongnya sampai dia gerah, barulah dia akan mengeluarkan suara emasnya
dia yang paing gendut diantara yang lain
dia yang suka berbaring teras samping rumah
dia yang selalu dekat dengan kucing yang lebih tua dan bisa mengambil hati mereka walau yang paling galak sekalipun
dia yang membuatku selalu ingin memainkan ekornya yang hanya seujung jari
dia yang masih mau berlarian jika kuajak bermain
dia yang..ah terlalu banyak kenangan selama seminggu itu hingga membuatku seakan tak rela melepasnya pergi

Ya Allah aku ikhlas, semoga dia mendapat tempat terbaik
jagalah dia karena dia juga telah menjaga keluargaku saat aku jauh

Gembulku, selamat jalan
kami tak akan pernah melupakanmu karena kau adalah bagian dari kami
dan akan selalu ada di hati

April 20, 2011

Teman masa kecilku

Teman masa kecilku, entah kenapa tiba-tiba hari ini aku mengingatmu
Mengingat wajah ceriamu saat kita berjalan bersama di pematang sawah
atau wajah sedihmu saat gagal mendapatkan ikan di kelokan sungai itu
hari-hari itu telah lama berlalu, tapi masih nampak jelas dalam ingatanku

aku masih tertawa jika mengingat pernah jatuh dari jembatan bambu ke dalam sungai yang meski tak deras tapi cukup membuatku kelimpungan mengejar sandal plastik kesayanganku yang terseret arus
kau tertawa dari kejauhan, karena saat itu aku titipkan sepedaku padamu yang membuatmu harus mengambil jalan lain hingga kau tak perlu basah kuyup bersamaku

atau  di waktu lain, berjalan pelan dan membaca doa ketika melewati bangunan kecil tua yang menyeramkan di pinggir desa kita, untuk kemudian lari ketakutan secepat kilat setelah membaca doa itu

hobi kita waktu itu adalah mandi di satu-satunya dam sungai yang ada di dekat rumah, walaupun setelah mandi harus mengeringkan rambut dulu supaya ketika pulang ke rumah kita tidak dimarahi, karena memang kita dilarang oleh orang tua masing-masing untuk mandi di sungai

selain mandi di sungai, yang masih kuingat adalah bersepeda keliling desa, bahkan sejauh mungkin kita bisa sampai desa tetangga

mengejar layang-layang, berlarian di tengah hujan, mencari makanan untuk ikan lele, atau sekedar duduk menikmati semilir angin di luar sana, sungguh kenangan itu indah

temanku, aku masih disini..di dunia masa kecil kita
walau sudah banyak yang berubah, tapi tetap saja ada hal-hal kecil yang mengingatkanku tentang masa itu
aku tak tahu dimana dirimu kini, yang jelas semoga dirimu selalu merasa bahagia
semoga dirimupun masih mengingat jejak-jejak langkah kecil kita yang tertinggal di setiap sudut di desa kita tercinta ini

temanku, semoga suatu hari kita bisa bertemu dan menyusuri pematang sawah itu lagi
semoga

February 22, 2011

Aku merindukan teras mungil itu..
Dimana kita sering menghabiskan waktu
Memandangi butiran hujan, atau menikmati angin yang gemulai
Kebersamaan yang selalu sederhana

IBK, 22.02.2011

December 31, 2010

Tahun ini...

Tahun ini akan kuingat sebagai penanda langkah kita yang tak lagi bisa seiring sejalan.
Tahun ini juga yang memberiku pengertian akan makna cinta, patah hati, kesepian dan ditinggalkan.
Tahun ini membuatku menitikkan banyak air mata karena mengenang cerita indah kita.
Tahun ini pula yang sudah menjawab segala pertanyaan ku akan kesungguhanmu


Tahun ini aku banyak kehilangan orang terkasih yang meninggalkan dunia
Tahun ini membawaku memahami bahwa segala milikNya akan jua kembali padanya, tanpa ada yang tahu kapan dan dimana.
Tahun ini banyak mengajariku arti merindu, karena harus hidup jauh dari orang-orang terkasih.
Tahun ini menunjukkan padaku bahwa aku akan selalu membutuhkan kasih sayang ibuku tercinta.


Semoga langkah ku semakin ringan di tahun depan
Semoga kenangan tentangmu tak lagi menari di benakku sesering sekarang
Semoga seseorang yang dijanjikanNya akan segera datang
Semoga diri ini menjadi pribadi yang lebih baik untuk keluarga, sahabat dan orang-orang di sekitarku

Innsbruck, 31.12.2010

December 16, 2010

Goodbye granpa..

I am so sad today..
My mom just left me a text message said that my grandfather passed away

He is a great man, he used to be a teacher before he retired 
I will mis him so much, especially because he is a great story teller
when we enjoy the cup of tea, he will started to tells story about his past
how he struggle as a teacher and he was very proud to be one of them

Grandpa, rest in peace there
thank you so much for teach me how to be a though person
and how to be better human life in this world


i love you


-your dearest grandchild-

December 13, 2010

Benarkah itu cinta?

Aku baru menyadari, bahkan kita tak punya foto kenangan kita berdua
Mungkin itu sudah menjadi pertanda sejak awal bahwa hubungan ini tak ada masa depannya
Harusnya dari awal dirimu jujur, supaya hatiku tak sesakit ini ketika kau tinggalkan
Cinta macam apa yang justru menjadikan ketidakjujuranmu sebagai alasan untuk menjaga perasaanku?
Cinta macam apa yang membuat dirimu merasa tak pantas bersanding denganku?
Cinta macam apa yang kau agungkan, yang membuatmu bungkam dan memilih diam?
Cinta macam apa yang ada dalam hatimu, yang kau anggap bertepuk sebelah tangan tapi ternyata tidak?
Cinta macam apa yang membuatmu memilihnya dan memutuskan sepihak bahwa itu untuk yang terbaik kebahagiaanku?
Darimana kau tahu aku akan bahagia bila kau tinggalkan?
Pada akhirnya jikalau pun suatu saat aku benar-benar melepaskanmu, akan tetap ada tanda Tanya besar dalam hatiku, cinta macam apa yang masih kau simpan untukku?
Benarkah perasaanmu itu cinta?

December 02, 2010

dalam bimbang ku melangkah

mataku masih nanar setiap kali menatap foto itu
tersimpan sejuta rasa kasih lewat tatapan lembut
melihat wajah itu, yang selalu terasa menenangkan saat amarahku bergejolak
seolah semua amarah luluh dalam satu kedipan
entah bagaimana caranya melupakanmu, sampai saat ini aku belumlah tahu..




(Paris, winter 2009)

November 24, 2010

Nyanyian awal musim dingin

bulir bulir putih itu sudah nampak diatas sana
di puncak dan lereng pegunungan
membuat pohon-pohon yang tadinya semarak berwarna di musim gugur
menjadi serba putih
tinggal menunggu waktu untuk sampai terus kebawah dan akhirnya menyapa makhluk hidup lainnya di kota ini
ini adalah musim dingin kedua ku di sini
kota yang nun jauh di seberang tanah kelahiranku

memasuki musim dingin, ada nuansa berbeda
orang-orang lebih suka mengenakan pakaian yang berwarna gelap
entah itu untuk lebih menghangatkan badan dan menahan panas
ataukah memang tradisi yang sejak dulu ada, aku pun tak tahu
yang jelas, bagiku seperti suram
kontras antara gelapnya pakaian dan terangnya warna salju

orang-orang mulai mempercepat langkahnya di jalanan
seolah tak ingin berlama-lama bersentuhan dengan udara yang dingin ini
perasaan dingin, membuat hangat menjadi berharga
begitu pula sebaliknya

dengan posisi geografis seperti negara ini, hangat dan sinar matahari merupakan sesuatu yang selalu ditunggu
karena sebagian besar waktu selama setahun dilewatkan bersama udara dingin dan kadang angin yang bertiup
membuat mereka begitu mencintai sang surya
ketika sang surya menyeruak di musim panas, sesering mungkin mereka habiskan waktu untuk menikmatinya

betapa beruntung aku lahir dan tinggal di negara tropis
hanya ada dua musim, dan pakaian bisa dikenakan di segala musim
tak seperti disini yang harus mempunyai pakaian empat rupa untuk empat musim

tapi aku menikmati waktu yang telah dan akan kuhabiskan disini
melihat budaya yang berbeda
orang-orang yang berbeda pula sikap dan tingkah laku nya
dan semua itu membuatku lebih bersyukur lagi akan hidupku

aku suka menikmati indahnya bunga-bunga disini
dari mulai mereka muncul sebagai kuncup di musim semi
mekar di musim panas
berjatuhan di musim gugur dan akhirnya hilang di musim dingin

seperti yang kurasakan sekarang
kehilangan, memang menyakitkan
tapi ketika ada rasa baru yang tumbuh, saat itu adalah yang paling membahagiakan
kuharap musim semi akan segera datang, menggantikan yang telah hilang

innsbruck, akhir November 2010




November 15, 2010

Happy Eid Qurban 1431 H

Tomorrow is Eid Qurban, 10 Dzulhijjah 1431 H
Normally in my hometown we will celebrate this day with family and friends
Begin with Eid Qurban prayer in the Masjid or grassy field in our village
And then, the men will slaughter the animal which will be sacrifice as qurban.
After that, they made this meat from th animal (usually cow or goat) in the certain portion and then every household in the village will take one portion to their family.

Many dishes can be made from this meat.
For example rendang, soto, gulai, kari, sate, etc.
This year i will spent Eid Qurban here in Innsbruck with the others friend.
Last year also the same, i can't celebrate this day with my parent, family and friends in my country Indonesia. But still, here we can cook the dishes together and then gathering in the dining room to eat and share some stories so we can laugh and feels like home.

Usually my mom will making different dishes, not from meat but from fish.
We call it Tekwan, its really delicious.
I always miss my mother's cuisine, especially like this time.
But i hope i still can enjoy the time here with all friends and relatives, to celebrate together and enjoying food like one big family.

Happy Eid Qurban for all..


Innsbruck, 9 Dzulhijjah 1431 H

November 12, 2010

Yakinlah

Maafkan semua yang ku lakukan
Selama kita berdua coba untuk menyatukan hati ini dan cinta kita
Biarkan semua kan slalu tersimpan dalam lembar cinta kita
Dan maafkan bila membuat lukamu semakin dalam

Coba tuk raih semua angan dan cintamu
Dan cobalah tuk lupakan segalanya
Yang telah berlalu...dan kini telah tenggelam...

Yakinkan dirimu, yakinkan hatimu, dan yakinkan cintamu
Maafkan diriku, tepikan dirimu, dan lupakan kasihmu
Bukan niatku untuk hapuskan semua
Bukan niatku untuk berpaling....

Bukanlah aku tak mau mengerti
Tapi ini jalan kita,
Tak ada lagi yang dapat merubah takdir cinta kita

Thanks to someone who ever dedicated this song for me and being a part of my life
i will understand this situation

November 10, 2010

cerita tentang mereka

Suatu malam, mereka bertemu di dunia maya
sang lelaki bercerita tentang satu hari yang dialaminya tadi, dan menanyakan bagaimana kabar sang perempuan..
kalimat demi kalimat mengalir, menyambung utuh menjadi sebuah alur kehidupan yang membawa mereka ke suatu hubungan yang tak bernama
kadang diiringi gelak tawa, amarah dan bahkan luka

mereka tahu hanya lewat dunia maya lah hubungan ini terbangun

tapi justru dengan itu, memberikan kekuatan dan keingintahuan untuk terus dan terus bercerita
seolah mereka berdua hanya hidup dalam dunia mimpi
ya, karena dalam kehidupan nyata mereka tak mungkin bisa bersama
bersama menjalani hari dan merajut masa depan
bahkan ketika mereka tahu, romantisme itu masih tetap ada dan bahkan menguat dalam hati

menjelang perpisahan di malam itu, ada setitik harap untuk dapat bertemu lagi di malam berikutnya
walau hanya berbagi cerita, itu adalah sumber kekuatan mereka berdua untuk terus melangkah menjalani hidup mereka yang sesungguhnya
sang perempuan percaya atas keyakinan sang lelaki, bahwa memang inilah yang terbaik untuk mereka
bahwa tak lama lagi akan ada sesosok lelaki lain yang dikirimkanNya untuk sang perempuan
karena sang lelaki saat ini dan seterusnya tak dapat menjadi yang halal baginya

dengan itupun sang perempuan merasakan bahagia yang cukup
dan berharap esok hari sesosok lelaki lain itu akan muncul
membawanya mengarungi bahagia yang sebenarnya

malam ini cukup sampai disini, semoga esok malam kita bertemu lagi

-i will be happy as long as you are-