Showing posts with label Istanbul. Show all posts
Showing posts with label Istanbul. Show all posts

January 14, 2013

Turkey Trip: Terima kasih Naseer

Naseer, dia adalah seorang anak yang sangat pintar. Kami mengenalnya sewaktu mengunjungi Grand Bazaar. Hari itu hari Sabtu, dan dia bercerita bahwa dia ikut membantu pamannya berjualan di Bazaar setiap hari Sabtu, saat libur sekolah. Senin-Jumat dia harus sekolah, sedangkan hari Minggu Bazaar tutup. Dia berkata kepada kami, kalau mau bertemu dia lagi, kami harus datang di hari Sabtu. Pagi menjelang siang kali itu, aku mengajak Ayu untuk masuk ke Grand Bazaar. Aku sendiri sudah pernah melongok ke dalam sini sewaktu transit di istanbul tahun 2011. Kami masuk dari pintu utama di depan halte tram Beyazit. Begitu masuk, mata akan dimanjakan dengan kilauan warna warni berbagai macam barang yang dijual di dalam pasar ini. Mulai dari aksesoris wanita, berbagai macam sulaman khas Istanbul dalam bentuk sarung bantal kecil hingga besar, taplak meja, dan sprei. Tak ketinggalan lampu beraneka macam warna yang disebut dengan ‘Japanese lamp’. Entah kenapa mereka menyebutnya begitu, apa mungkin memang asal usul lampu ini dari negeri sakura? Entahlah. Tapi soal harga, yang di jual di dalam Grand Bazaar cenderung lebih mahal dibanding tempat lain. Misalnya saja kami pernah beli gantungan kunci seharga 1 TL di luar Grand Bazaar, tapi harga didalam bisa jadi 5 TL lho. Apa mungkin karena kalau di dalam mereka harus sewa tempat ya? Masuk akal juga sih.

Nah, di antara kekaguman kami melihat-lihat isi di dalam Grand Bazaar, tanpa sengaja kami melihat sosok Naseer. Dia sedang berdiri di depan toko pamannya yang menjual berbagai macam souvenir berupa kaos dengan berbagai ukuran. Kamipun mendekatinya dan pada waktu itu memang berniat membelikan kaos kecil untuk beberapa anak dari teman-teman di Innsbruck. Jadilah kami tertegun begitu disapa oleh Naseer, karena bahasa Inggris nya sangat lancar dengan artikulasi yang baik. Dia pun mempersilahkan kami masuk untuk melihat-lihat koleksi kaos yang mereka jual. Sembari memilih, kamipun mengobrol dan aku tentu saja tidak bisa tidak bertanya dan memuji baha Inggrisnya yang begitu bagus. Dia bercerita, bahasa inggris merupakan pelajaran favoritnya di sekolah dan selalu mendapat nilai bagus. Salah satu alasan dia ikut berjualan bersama pamannya adalah untuk mempraktikkan kemampuan bicaranya. Menurutku hal itu sangat membantu dan merupakan ide yang cerdas, terbukti dengan kemampuannya berbicara saat kami bertemu. Setelah selesai dia mengantarkan kami keluar toko dan berkata: "sampai jumpa lagi". Semoga suatu hari kita bisa berjumpa kembali ya. Terima kasih Naseer :)

Satu-satunya foto Naseer (kiri) yang aku punya

January 04, 2013

Turkey Trip: tentang keluarga Laila



Bangun tidur, rasanya seperti mimpi. Tak percaya kalau semalam akhirnya mendarat di Istanbul untuk kedua kalinya. Hampir tengah malam kami sampai di rumah teman Ayu yang memberi kami tempat menginap. Sebut saja namanya Laila. Dia menjemputku dan Ayu di bandara Ataturk, bersama adik perempuan dan sepupunya. Ketika menuju ke parkiran mobil, kami sempat bertemu dengan ayahnya Laila, karena beliau memang bekerja di areal bandara. Laila sempat menunggu kami agak lama sebelum keluar dari pintu kedatangan internasional. Karena aku dan Ayu harus terlebih dahulu mengantri di tempat penjualan Visa on Arrival, kemudian mengambil bagasi kami. Sebenarnya kalau semua berjalan lancar, mungkin Laila tidak perlu menunggu selama itu. Akan tetapi ada satu kejadian yang membuatku agak jengkel bin sebal, tapi juga geli dan kasihan.

Ceritanya gini, kami sudah mempersiapkan paspor dan uang Euro untuk membeli visa. Begitu kami serahkan kepada petugas di loket visa, mereka menolak uang Euro kami, karena katanya untuk paspor Indonesia kami hanya diperkenankan membayar dengan mata uang USD. Aku sempat bertanya mengapa tapi petugasnya ngga bisa menjawab. Akhirnya kami tanya dimana bisa menukarkan Euro dengan USD, dan sekali lagi diapun tidak tahu. Dia hanya menyarankan kami untuk bertanya di bagian trasfer desk. Awalnya sempat ragu untuk bertanya kesana, tapi karena tidak tahu mau bertanya ke siapa lagi akhirnya kami pun menuju ke transfer desk untuk mengantri. Masih dengan hati jengkel, Ayu akhirnya menelepon Laila untuk memberitahukan bahwa kami sudah sampai akan tetapi masih harus mengantri. Setelah beberapa saat tibalah giliran kami untuk bertanya, dan petugas di transfer desk malah meminta kami untuk ke lantai 2 (transfer area) jika ingin menukar uang, karena hanya disana yang ada tempat penukaran uang. Padahal untuk masuk ke areal transfer kami harus melewati gerbang pemeriksaan barang dan pastinya akan memakan waktu lebih lama. Kamipun memutuskan untuk tidak mengikuti saran mereka. Dalam kebingungan tak sengaja mata Ayu menangkap seoongok mesin ATM yang bertuliskan €/USD/TL yang merupakan simbol untuk mata uang Euro, US Dollar dan Turkish Lira. Kami pun senang bukan kepalang, dan langsung mencoba untuk transaksi penarikan uang. Bingo! Transaksi sukses dan 50 USD sudah ditangan, kami bergegas mengantri (lagi) di loket visa dan tanpa ba bi bu paspor langsung diberikan stempel visa Turki seharga 25 USD per orang. Aahh lega rasanya akhirnya bisa masuk Turki. Setelah dapat visa, selanjutnya masih harus mengantri di gerbang pemeriksaan paspor. Ada dua bagian utama disini yaitu gerbang khusus warga negara Turki dan gerbang untuk pemegang paspor selain Turki. Antrian mengular tapi dalam tempo relatif cepat karena gerbang untuk masing-masing bagian ada lebih dari lima. Sampai di depan petugas, menyerahkan paspor yang sudah berisi stempel visa Turki dan lolos. Sekarang saatnya mencari bagasi, dan tanpa susah payah kami menemukan dua tas yang tergeletak manis di conveyor belt. Hanya tinggal tasku dan tasnya Ayu, karena yang lain sudah diambil oleh pemilik masing-masing. Jadi bisa dibayangkan berapa lama proses kami untuk mendapatkan visa tadi. Tapi tak apalah, apa artinya perjalanan tanpa pengalaman, ya kan? Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa di Turki ternyata ada mesin pengambilan tunai yang menyediakan tiga mata uang sekaligus, dan menurutku ini sangat keren!

Setelah itu cerita berlanjut, kami menumpang mobil Laila dan langsung menuju rumahnya. Perjalanan dari bandara Ataturk ke rumahnya memakan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan membelah jalan tol, banyak gedung-gedung bertingkat di sisi kanan dan kiri jalan, mengingatkanku pada ibukota Jakarta. Rumah Laila berada di daerah berbukit di kawasan Güngören. Disini sebagian besar merupakan kawasan permukiman padat penduduk. Permukiman yang umum bentuknya seperti apartemen, rata-rata bertingkat lima. Di bangunan tempat rumah Laila berada, hanya ada tiga tingkat. Dia dan keluarganya (orang tua, adik perempuan, kakak laki-laki) tinggal di lantai satu, kemudian kakek dan neneknya di lantai 2. Aku kurang tahu siapa yang tinggal di lantai 3, kupikir juga masih keluarga mereka. Kami disambut oleh ibunya Laila malam itu, beliau ramah. Kami dipersilahkan masuk, saling memperkenalkan diri, ditunjukkan denah seisi rumah dan juga kamar yang akan kami tempati. Kami banyak mengobrol dengan beliau menggunakan bahasa jerman, karena beliau lebih mahir berbahasa jerman daripada bahasa inggris. Karena sejak lahir sampai sebelum menikah, beliau tinggal di Austria juga. Setelah menikah barulah pindah ke Istanbul untuk tinggal bersama suaminya. Laila mempunyai seorang adik perempuan bernama Aesya dan seorang kakak laki-laki yang sudah bekerja di kota lain dan saat itu tidak berada di Istanbul. Sedangkan Aesya masih kuliah di kota lain juga, akan tetapi hari itu sedang ada di rumah, jadinya kami bisa berkenalan. Aesya tidak bisa berbahasa inggris ataupun jerman, tapi darinya kami tahu bahwa dia adalah penggemar berat klub sepakbola asal Turki yaitu Galatasaray. Klub ini cukup terkenal juga di Indonesia karena dulunya kalau tidak salah sempat masuk ke dalam klasemen liga utama Eropa. Dia pun gembira karena aku dan Ayu tahu tentang klub ini. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi teh asli kebanggaan orang Turki atau yang biasa disebut Cay. Sebenarnya aku pernah mencicipinya sewaktu di Innsbruck, akan tetapi entah kenapa rasanya berbeda jika diminum di negara asalnya. Laila bilang dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin saja karena faktor perbedaan air dan juga cuaca yang menyebabkan perbedaan rasa ini.

Kami mengobrol sampai lewat tengah malam untuk kemudian akhirnya beristirahat karena semua orang sudah mengantuk. Bapak (Baba dalam bahasa Turki) Laila malam itu mendapatkan shift malam sampai pagi, karena itu beliau tidak pulang ke rumah. Mungkin kami akan bertemu keesokan hari. Selamat malam Istanbul, tunggu petualangan kami esok hari.