Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts

January 14, 2013

Turkey Trip: Terima kasih Naseer

Naseer, dia adalah seorang anak yang sangat pintar. Kami mengenalnya sewaktu mengunjungi Grand Bazaar. Hari itu hari Sabtu, dan dia bercerita bahwa dia ikut membantu pamannya berjualan di Bazaar setiap hari Sabtu, saat libur sekolah. Senin-Jumat dia harus sekolah, sedangkan hari Minggu Bazaar tutup. Dia berkata kepada kami, kalau mau bertemu dia lagi, kami harus datang di hari Sabtu. Pagi menjelang siang kali itu, aku mengajak Ayu untuk masuk ke Grand Bazaar. Aku sendiri sudah pernah melongok ke dalam sini sewaktu transit di istanbul tahun 2011. Kami masuk dari pintu utama di depan halte tram Beyazit. Begitu masuk, mata akan dimanjakan dengan kilauan warna warni berbagai macam barang yang dijual di dalam pasar ini. Mulai dari aksesoris wanita, berbagai macam sulaman khas Istanbul dalam bentuk sarung bantal kecil hingga besar, taplak meja, dan sprei. Tak ketinggalan lampu beraneka macam warna yang disebut dengan ‘Japanese lamp’. Entah kenapa mereka menyebutnya begitu, apa mungkin memang asal usul lampu ini dari negeri sakura? Entahlah. Tapi soal harga, yang di jual di dalam Grand Bazaar cenderung lebih mahal dibanding tempat lain. Misalnya saja kami pernah beli gantungan kunci seharga 1 TL di luar Grand Bazaar, tapi harga didalam bisa jadi 5 TL lho. Apa mungkin karena kalau di dalam mereka harus sewa tempat ya? Masuk akal juga sih.

Nah, di antara kekaguman kami melihat-lihat isi di dalam Grand Bazaar, tanpa sengaja kami melihat sosok Naseer. Dia sedang berdiri di depan toko pamannya yang menjual berbagai macam souvenir berupa kaos dengan berbagai ukuran. Kamipun mendekatinya dan pada waktu itu memang berniat membelikan kaos kecil untuk beberapa anak dari teman-teman di Innsbruck. Jadilah kami tertegun begitu disapa oleh Naseer, karena bahasa Inggris nya sangat lancar dengan artikulasi yang baik. Dia pun mempersilahkan kami masuk untuk melihat-lihat koleksi kaos yang mereka jual. Sembari memilih, kamipun mengobrol dan aku tentu saja tidak bisa tidak bertanya dan memuji baha Inggrisnya yang begitu bagus. Dia bercerita, bahasa inggris merupakan pelajaran favoritnya di sekolah dan selalu mendapat nilai bagus. Salah satu alasan dia ikut berjualan bersama pamannya adalah untuk mempraktikkan kemampuan bicaranya. Menurutku hal itu sangat membantu dan merupakan ide yang cerdas, terbukti dengan kemampuannya berbicara saat kami bertemu. Setelah selesai dia mengantarkan kami keluar toko dan berkata: "sampai jumpa lagi". Semoga suatu hari kita bisa berjumpa kembali ya. Terima kasih Naseer :)

Satu-satunya foto Naseer (kiri) yang aku punya

January 04, 2013

Turkey Trip: tentang keluarga Laila



Bangun tidur, rasanya seperti mimpi. Tak percaya kalau semalam akhirnya mendarat di Istanbul untuk kedua kalinya. Hampir tengah malam kami sampai di rumah teman Ayu yang memberi kami tempat menginap. Sebut saja namanya Laila. Dia menjemputku dan Ayu di bandara Ataturk, bersama adik perempuan dan sepupunya. Ketika menuju ke parkiran mobil, kami sempat bertemu dengan ayahnya Laila, karena beliau memang bekerja di areal bandara. Laila sempat menunggu kami agak lama sebelum keluar dari pintu kedatangan internasional. Karena aku dan Ayu harus terlebih dahulu mengantri di tempat penjualan Visa on Arrival, kemudian mengambil bagasi kami. Sebenarnya kalau semua berjalan lancar, mungkin Laila tidak perlu menunggu selama itu. Akan tetapi ada satu kejadian yang membuatku agak jengkel bin sebal, tapi juga geli dan kasihan.

Ceritanya gini, kami sudah mempersiapkan paspor dan uang Euro untuk membeli visa. Begitu kami serahkan kepada petugas di loket visa, mereka menolak uang Euro kami, karena katanya untuk paspor Indonesia kami hanya diperkenankan membayar dengan mata uang USD. Aku sempat bertanya mengapa tapi petugasnya ngga bisa menjawab. Akhirnya kami tanya dimana bisa menukarkan Euro dengan USD, dan sekali lagi diapun tidak tahu. Dia hanya menyarankan kami untuk bertanya di bagian trasfer desk. Awalnya sempat ragu untuk bertanya kesana, tapi karena tidak tahu mau bertanya ke siapa lagi akhirnya kami pun menuju ke transfer desk untuk mengantri. Masih dengan hati jengkel, Ayu akhirnya menelepon Laila untuk memberitahukan bahwa kami sudah sampai akan tetapi masih harus mengantri. Setelah beberapa saat tibalah giliran kami untuk bertanya, dan petugas di transfer desk malah meminta kami untuk ke lantai 2 (transfer area) jika ingin menukar uang, karena hanya disana yang ada tempat penukaran uang. Padahal untuk masuk ke areal transfer kami harus melewati gerbang pemeriksaan barang dan pastinya akan memakan waktu lebih lama. Kamipun memutuskan untuk tidak mengikuti saran mereka. Dalam kebingungan tak sengaja mata Ayu menangkap seoongok mesin ATM yang bertuliskan €/USD/TL yang merupakan simbol untuk mata uang Euro, US Dollar dan Turkish Lira. Kami pun senang bukan kepalang, dan langsung mencoba untuk transaksi penarikan uang. Bingo! Transaksi sukses dan 50 USD sudah ditangan, kami bergegas mengantri (lagi) di loket visa dan tanpa ba bi bu paspor langsung diberikan stempel visa Turki seharga 25 USD per orang. Aahh lega rasanya akhirnya bisa masuk Turki. Setelah dapat visa, selanjutnya masih harus mengantri di gerbang pemeriksaan paspor. Ada dua bagian utama disini yaitu gerbang khusus warga negara Turki dan gerbang untuk pemegang paspor selain Turki. Antrian mengular tapi dalam tempo relatif cepat karena gerbang untuk masing-masing bagian ada lebih dari lima. Sampai di depan petugas, menyerahkan paspor yang sudah berisi stempel visa Turki dan lolos. Sekarang saatnya mencari bagasi, dan tanpa susah payah kami menemukan dua tas yang tergeletak manis di conveyor belt. Hanya tinggal tasku dan tasnya Ayu, karena yang lain sudah diambil oleh pemilik masing-masing. Jadi bisa dibayangkan berapa lama proses kami untuk mendapatkan visa tadi. Tapi tak apalah, apa artinya perjalanan tanpa pengalaman, ya kan? Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa di Turki ternyata ada mesin pengambilan tunai yang menyediakan tiga mata uang sekaligus, dan menurutku ini sangat keren!

Setelah itu cerita berlanjut, kami menumpang mobil Laila dan langsung menuju rumahnya. Perjalanan dari bandara Ataturk ke rumahnya memakan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan membelah jalan tol, banyak gedung-gedung bertingkat di sisi kanan dan kiri jalan, mengingatkanku pada ibukota Jakarta. Rumah Laila berada di daerah berbukit di kawasan Güngören. Disini sebagian besar merupakan kawasan permukiman padat penduduk. Permukiman yang umum bentuknya seperti apartemen, rata-rata bertingkat lima. Di bangunan tempat rumah Laila berada, hanya ada tiga tingkat. Dia dan keluarganya (orang tua, adik perempuan, kakak laki-laki) tinggal di lantai satu, kemudian kakek dan neneknya di lantai 2. Aku kurang tahu siapa yang tinggal di lantai 3, kupikir juga masih keluarga mereka. Kami disambut oleh ibunya Laila malam itu, beliau ramah. Kami dipersilahkan masuk, saling memperkenalkan diri, ditunjukkan denah seisi rumah dan juga kamar yang akan kami tempati. Kami banyak mengobrol dengan beliau menggunakan bahasa jerman, karena beliau lebih mahir berbahasa jerman daripada bahasa inggris. Karena sejak lahir sampai sebelum menikah, beliau tinggal di Austria juga. Setelah menikah barulah pindah ke Istanbul untuk tinggal bersama suaminya. Laila mempunyai seorang adik perempuan bernama Aesya dan seorang kakak laki-laki yang sudah bekerja di kota lain dan saat itu tidak berada di Istanbul. Sedangkan Aesya masih kuliah di kota lain juga, akan tetapi hari itu sedang ada di rumah, jadinya kami bisa berkenalan. Aesya tidak bisa berbahasa inggris ataupun jerman, tapi darinya kami tahu bahwa dia adalah penggemar berat klub sepakbola asal Turki yaitu Galatasaray. Klub ini cukup terkenal juga di Indonesia karena dulunya kalau tidak salah sempat masuk ke dalam klasemen liga utama Eropa. Dia pun gembira karena aku dan Ayu tahu tentang klub ini. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi teh asli kebanggaan orang Turki atau yang biasa disebut Cay. Sebenarnya aku pernah mencicipinya sewaktu di Innsbruck, akan tetapi entah kenapa rasanya berbeda jika diminum di negara asalnya. Laila bilang dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin saja karena faktor perbedaan air dan juga cuaca yang menyebabkan perbedaan rasa ini.

Kami mengobrol sampai lewat tengah malam untuk kemudian akhirnya beristirahat karena semua orang sudah mengantuk. Bapak (Baba dalam bahasa Turki) Laila malam itu mendapatkan shift malam sampai pagi, karena itu beliau tidak pulang ke rumah. Mungkin kami akan bertemu keesokan hari. Selamat malam Istanbul, tunggu petualangan kami esok hari.

January 03, 2013

Turkey Trip: berangkaaaat!

“Sudah sampai dimana?”, tanyaku pada Ayu melalui telepon genggam.
“Aku sudah ada di dalam stasiun kereta mbak”, diapun menjawab pertanyaanku.
“Oke, aku susul ke dalam ya!”, kataku seraya menutup percakapan itu.

Pagi itu sudah banyak orang berlalu lalang di stasiun kereta, akupun ikut masuk seraya mataku mencari-cari dimana keberadaan Ayu. Kami akan naik kereta menuju Kota Bologna di Italia dengan jadwal keberangkatan pukul 07.00 dan itu artinya masih ada sekitar 30 menit untuk membeli sarapan di satu-satunya toko roti (backerei) yang ada di dalam stasiun kereta. Aku seperti biasa membeli roti kegemaranku yaitu Kässetangerl dan segelas kopi decaf atau tanpa kafein. Setelah itu langsung kutemui Ayu dan kami segera menuju ke platform keberangkatan. Ternyata kereta yang akan kami tumpangi sudah datang. Rute kereta ini dari Innsbruck menuju Kota Lienz in Osttirol, tapi kami harus turun di stasiun Brennero untuk berganti kereta.

Tak langsung berganti kereta sebenarnya karena kami harus menunggu satu jam hingga kereta berikutnya datang membawa kami ke stasiun selanjutnya. Memang perjalanan pagi ini sedikit tidak praktis karena untuk sampai ke kota Bologna kami harus berganti kereta 3 kali yaitu di stasiun Brennero, Bolzano dan Verona. Apa daya, karena musim liburan makanya kereta yang langsung sudah habis dipesan dari jauh-jauh hari. Beruntung untuk pulangnya nanti kami bisa dapat kereta Bologna-Innsbruck tanpa harus berganti. Perjalanan Innsbruck-Bologna memerlukan waktu maksimal 5 jam dalam kondisi normal, maksudnya jika tidak ada penundaan atau kerusakan kereta.

Ruang tunggu stasiun Brenner
Koper dan ransel
Chiusa, salah satu stasiun antara Brenner dan Bolzano 
Kenapa kami memilih Bologna? Karena dari sini ada penerbangan langsung ke Kota Istanbul dan pada waktu itu kami mendapatkan penawaran yang menggiurkan. Memang bisa saja kami terbang dari kota Munich atau Vienna akan tetapi setelah dipertimbangkan, Bologna menjadi pilihan utama. Lagipula kami berdua belum pernah mengunjungi kota yang satu ini.

Sampai di Bologna sekitar pukul 12.51 siang itu dan satu pertanyaan langsung terlontar dari mulutku: “Mau makan siang dimana kita?”. Ya, karena perut sudah sangat lapar, demikian juga dengan Ayu. Akhirnya dengan menyeret koper kami berjalan menjauhi stasiun kereta, menyusuri lorong jalanan di Via Indipendenza. Ini adalah salah satu jalan yang cukup terkenal di Bologna, yang menghubungkan stasiun kereta dengan pusat kota yaitu Piazza Maggiore. Panjangnya mungkin ada sekitar 1,5 km dan merupakan satu garis lurus. Jalan ini merupakan pusat pertokoan utama di kota Bologna dimana banyak dijual bermacam ragam kebutuhan sehari-hari, juga terdapat deretan restaurant dan cafe.

Via Indipendenza (Via dalam bahasa italia berarti jalan)
Kami berlabuh di salah satu restoran kecil yang menjual berbagai macam jus segar dan juga makan siang ringan seperti sandwich dan roti isi. Pesananku waktu itu adalah jus campuran sayur dan buah serta seafood wrap. Karena lapar kamipun makan dengan lahap, lagipula makanannya memang enak.

Menu yang disajikan di restoran
Ini dia seafood wrap-nya
Jus buah campur sayur, segaar
Selesai makan kami berjalan menyusuri bagian timur Via Indipendenza, berjalan memutar kembali ke stasiun kereta. Ternyata di dekat tempat tersebut ada pasar yang menjual berbagai macam kebutuhan seperti pakaian, sandal/sepatu, aksesoris wanita dan lain sebagainya. Karena hari itu adalah hari Minggu maka banyak juga orang-orang yang datang ke pasar ini untuk berbelanja. Mendekati stasiun kereta kami menemukan salah satu bangunan semacam pintu gerbang, yang ternyata memang pada zaman dahulu digunakan sebagai pintu masuk ke Kota Bologna. Total ada 12 pintu gerbang semacam ini di Bologna, yang merupakan akses masuk ke kota dari berbagai penjuru. Namun pada saat sekarang tidak lagi digunakan karena sistem tata kota yang lebih terbuka.

Salah satu dari 12 gerbang masuk kota Bologna
Untuk mencapai bandara Bologna, kami harus naik Aerobus yang rutenya dari depan stasiun kereta (Bologna Centrale) langsung sampai ke bandara, menempuh sekitar 20 menit. Tiket bisa dibeli di atas bus pada sang sopir atau bisa juga dibeli di tempat penjualan tiket ATT yang berada di sebelah kanan pintu keluar stasiun. Harganya sama saja yaitu 6 Euro (setara dengan 78.000 IDR). Perjalanan dari stasiun kereta ke bandara kali ini sangat berkesan buatku karena berkesempatan melihat matahari terbenam yang paling indah yang pernah aku saksikan, dari atas bis. Sayangnya kameraku tak sempat mengabadikan saat berharga ini. Tapi tak mengapa, ingatan itu akan selalu membekas di hati.

Aerobus, rute antara stasiun kereta dan bandara
Nah dari bandara Bologna inilah kami akan melanjutkan perjalanan menuju Istanbul, Turki. Tidak hanya ke Kota Istanbul saja akan tetapi ke beberapa tujuan lain seperti Goreme (Kapadokya) dan Pamukkale. Tunggu cerita perjalanan selanjutnya ya. Adiooss :)




January 02, 2013

Photo Essay: Istanbul

New Mosque at dawn

Bus shuttle ticket from Taksim to Sabiha Gokcen Airport

The airport

Hagia Sofia

Istanbul cats

Sultanahmet a.k.a Blue Mosque

In flight dinner
Waiting for our fish sandwiches by the sea
Fountain in front of Sultanahmet



November 23, 2012

Happy Wedding my dear sister


Dear Ciplug,

Tak terasa penantian panjangmu akhirnya sampai pada saat ini, saat dimana dirimu akan menjadi yang halal untuknya, suamimu.
Sedih rasanya tak bisa hadir disana, menyaksikanmu bersanding, menyaksikan keanggunanmu dalam balutan baju pengantin.
Menyaksikan kebahagiaan keluargamu dan Himawan, melihat senyum di wajahmu duhai adikku.
Setetes air mata mengalir saat menuliskan ini untukmu, tapi percayalah itu adalah air mata bahagia.
Aku turut berbahagia disini, melihat mimpimu menjadi nyata.
Mengamini akad yang akan diucapkan Him, mendoakan kalian semoga akan selalu saling menjaga dan menyayangi.
Pahit manis perjalanan kalian sedikit banyak aku sudah menyaksikan sendiri.
Kuharap dimasa yang akan datang, di keluarga yang akan kalian bentuk, bahagia kan selalu hadir disana.
Bahagialah, buang sedihmu, karena kalian berhak untuk bahagia.
Aku disini berharap bisa memelukmu dan menemanimu menjalani hari-hari menuju acara.
Tapi apa daya jarak memisahkan kita.
Teriring doa semoga semua berjalan lancar dan titip salam untuk keluarga besar.
Aku bahagia dipertemukan denganmu, saudara yang selalu aku impikan.
Pada akhirnya walaupun tak ada ikatan darah, hal itu menjadi tak penting.
Karena hubungan ini apapun namanya, akan membawa kita menuju hidup yang lebih bahagia dan bermanfaat. Aamiin.



I love you my dear sister, Happy Wedding :)

October 29, 2012

Idul Adha 2012


Mulai hari Jumat (26 Oktober 2012) sekitar jam 11 malam kemarin, salju kembali turun menyapa bumi Innsbruck.  Hari itu merupakan hari libur nasional di Austria yang diperingati sebagai hari kemerdekaan (walaupun secara resmi negara ini tak pernah dijajah sebelumnya). Hari itu juga bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Senang rasanya karena bisa merayakan Idul Adha di hari libur. Paginya kami sholat Idul Adha berjamaah di Mesjid Arab. Terasa ramai karena Mbak Deasy dan Ainun sudah datang ke Innsbruck seminggu yang lalu. 

Suasana selepas sholat Idul Adha
Setelah tunai sholat, kami bersama-sama ke rumah Umar untuk berkumpul merayakan lebaran bersama-sama. Berkumpul tak lengkap jika tanpa penganan dan camilan. Jadilah kami mulai sibuk di dapur mempersiapkan menu. Mulai dari bakwan dan tahu isi, ayam panggang, sambal balado dan urap sayuran. Saat makan siang semua terhidang lengkap dan kamipun makan bersama.

Setelahnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota karena hari itu ada kegiatan Tag der Offenen Tür alias masuk museum gratis. Ada sekitar 5 museum di kota Innsbruck yang boleh kita masuki. Salah satunya adalah Ferdinandeum museum yang terletak di jantung kota. Ini kali pertama aku masuk kemari, isinya kebanyakan adalah lukisan dari 5 pelukis kenamaan Austria. Website museumnya adalah: http://www.tiroler-landesmuseum.at/ yang mencakup beberapa museum milik pemerintah. Salah satunya adalah Ferdinandeum ini.

Leaflet Tag der Offenen Tür (bagian belakang)


Leaflet Tag der Offenen Tür (bagian depan)

Di Landhausplatz juga berlangsung acara yang dinamakan Familientag (hari untuk keluarga). Acara ini dikhususkan sebagai pembuka wawasan untuk anak-anak. Disini dipamerkan mobil pemadam kebakaran, helikopter penyelamat, tank panser militer, para petugas pemadam kebakaran, anjing pelacak dan anjing penyelamat, dan juga ada stand khusus museum, taman nasional dan berbagai informasi menarik yang lain. 

Suasana di Landhausplatz

Isi dari mobil pemadam kebakaran

Salah satu anjing penyelamat

Helikopter penyelamat
Anak-anak mencoba masuk ke dalam tank panser
Anak- anak diajak untuk mengenal alam, melihat apa isi mobil pemadam kebakaran, merasakan bagaimana rasanya berada dalam tank panser, mencoba duduk di dalam helikopter, berkomunikasi dengan anjing penyelamat dan lain sebagainya. Betapa senangnya anak-anak disini karena pemerintah kota menggelar acara semacam ini hampir setiap tahun untuk memperingati National Tag. Mereka bisa belajar menghargai orang lain, menghargai fasilitas umum dan menjadi tahu dengan cara yang menyenangkan. 

Hari itu kami akhiri dengan berkunjung kerumah Adel untuk jamuan makan malam Idul Adha. Kak Aleem memasak beragam masakan seperti ayam goreng rempah, ayam bumbu rendang, sambal terasi dan lalapan. Mama Adel membuat hidangan penutup berupa brownies yang sangat lezat. Lengkap sudah kebahagiaan kami hari itu karena juga bisa bermain bersama Adel dan Umar.

Adel (kiri) dan Umar (kanan) (Foto oleh: D. Bismoko)

Adel dan Umar bersama tante-tantenya (Foto oleh: Noorsalwati)

Hidangan Idul Adha (Foto oleh: Noorsalwati)
Walaupun tak ada sate, gulai dan tongseng kambing seperti di tanah air, akan tetapi lebaran kali ini kami senang masih bisa berkumpul dan menghibur satu sama lain. Karena jauh dari keluarga tentulah bukan hal yang mudah untuk dilalui. Terimakasih keluarga Innsbruck, semoga kita selalu bisa melalui hari-hari dengan senyum :)

Innsbruck, Oktober 2012






October 16, 2012

Sampai jumpa Eunsil!

Eunsil dengan dua ranselnya

Namanya  Eunsil. Dia adalah seorang teman yang baru kukenal dari salah satu komunitas perjalanan. Kewarganegaraan Korea Selatan dan tinggal di dekat kota Seoul. Sudah hampir sebulan dia berkeliling Eropa dari mulai Turki, Kroasia, Hungaria dan Austria. Dia masih akan melanjutkan perjalanan ke Rep. Ceko, Polandia, Jerman, Italia, Spanyol, Amerika, Kanada dan akhirnya kembali lagi ke Eropa dan pulang ke negaranya lewat Prancis. Total perjalanan diperkirakan empat bulan. Waktu yang cukup lama dan pastinya memerlukan banyak tenaga, semangat dan juga biaya. Tapi dia sangat antusias. Aku merasa salut padanya karena dia berani meninggalkan pekerjaannya di Seoul dan pergi untuk melakukan perjalanan ini. Dia berkata bahwa ini adalah salah satu mimpi terbesarnya, walau nanti ketika pulang ke tanah airnya, dia harus kembali berjuang untuk mencari pekerjaan, dan itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa melakukan apa yang dia lakukan, dia berani berkorban untuk mewujudkan mimpinya. Aku senang bisa berkenalan dengannya. Dia menginap 2 hari di apartemenku dan berkesempatan untuk melihat-lihat kota Innsbruck. 

Kota Innsbruck dilihat dari Nordkette

Minggu sore itu dia datang dan aku segera mengajaknya untuk melihat kota Innsbruck dari ketinggian. Karena kupikir cuaca sore itu mendukung. Jika kami menunggu besok, entah apa yang terjadi. Karena benar saja keesokan harinya hujan sepanjang hari dan sangat dingin hingga sampai 4 derajat Celcius. Keputusan yang tepat, dan dia beruntung bisa menyaksikan musim gugur, melihat dedaunan yang mulai berubah warna di tengah cantiknya kota Innsbruck. Ah, kami berdua terpesona. Pemandangan dari atas begitu cantik, sungai Inn membelah kota menjadi tampak seperti dua bagian.

Pagi ini dia melanjutkan perjalanan ke kota lain di Austria, salam perpisahan pun terucap. Aku dan dia sama-sama berharap semoga suatu hari kami bisa berjumpa lagi, mungkin di Korea atau ditempat lain. Sampai jumpa Eunsil!





September 12, 2012

Gratulire Herr Doktor


Satu jam lagi Ang bakalan balik ke Indonesia. Tugas belajarnya sudah selesai kurang lebih selama empat tahun ini. Ada rasa bahagia karena akhirnya dia bisa meraih gelar doktor yang selama ini dijalani. Bangga karena dia adalah orang pertama geo 2001 yang menyandang titel ini. Sedih karena dia harus duluan pulang ke tanah air yang artinya berkurang juga seseorang yang bisa mengayomi dan diajak berdiskusi. Dia adalah salah satu teman terbaikku, yang tanpa pamrih selalu sedia membantu jika ada kesulitan. Bukan hanya aku pribadi tapi juga teman-teman yang lain di Innsbruck ini. Dia juga baik, pintar memasak, humoris, suka memotret dan jelajah alam sehingga kami semua pasti akan merindukannya di sini. Semalam waktu kami makan malam bersama di rumah Jenny, dia sempat membuat video perpisahan. Tak terasa air mata Jenny menitik sewaktu mengucapkan selamat berpisah,  dia berharap semoga bisa bertemu lagi. Kami semua larut dalam haru termasuk aku dan Sarrah. Kuharap sore ini tak ada lagi air mata yang harus menetes, karena senyum kami pasti akan menguatkannya selama perjalanan. Dia juga pasti sedih karena harus meninggalkan institut, teman dan kolega, dan tentu saja Innsbruck, kota kecil nan cantik di kaki Alps. Ya itulah hidup, harus mengalir. Perkenalan pasti berdampingan dengan perpisahan. Walau kita tak tahu mana yang lebih dominan pada akhirnya. Tapi pastinya semua senang pernah mengenal Ang, sosok yang baik hati.

Ang (tengah) sewaktu kami ke Dornbirn
Ang (kiri) dalam perjalanan kami ke Venice
Kenangan sewaktu bermain kartu Set di rumah EQ
Bersama Pak Nur
Tahun baru 2011 di Innsbruck
Winter 2011/2012 di Innsbruck
Ang, sang fotografer

Ang, sang fotografer (2)

Tiga sekawan nan kompak
Seharian ini mendung dan hujan, pun sampai sore ini. Mungkin Innsbruck turut berduka melepas kepulangan Ang. Ah, terkadang bumi lebih tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaannya. Ang dijemput travel taxi menuju Munchen airport dimana dia akan terbang dengan Emirates. Transit beberapa jam di Dubai dan kemudian dilanjutkan terbang ke Jakarta. Betapa gembira hati mengingat akan bertemu lagi dengan keluarganya. Kami semua turut mendoakan kesuksesanmu selalu teman. Semoga perjalanan kembali ke tanah air lancar dan selamat berkarya.

Innsbruck, 12 September 2012

July 10, 2012

Kring-kring gowes gowes


Hari Minggu lalu kami bertiga (saya dan dua orang teman) bersepeda menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer untuk mengunjungi rumah salah seorang teman kami yang lain. Perjalanan dimulai dengan terlebih dulu mengecek kondisi sepeda, serta menambahkan angin pada ban yang sudah mulai berkurang tekanannya. Kami berangkat pukul sepuluh pagi itu, langit begitu biru dengan sedikit panas yang menyilaukan mata. Kacamata hitam merupaka pilihan teman perjalanan yang sangat membantu mengurangi tingkat kesilauan ini. Rute yang kami pilih adalah jalan khusus untuk sepeda di sepanjang sungai Inn. Sungai ini membelah kota Innsbruck menjadi dua bagian utama yaitu bagian utara dan selatan. Lebih mudah tentunya jika kita menyusuri jalan di pinggir sungai ini, karena kemungkinan tersesat sangatlah kecil. Berbeda dengan jika kita harus melewati daerah perkotaan dengan banyak tikungan, perempatan, pertigaan dan juga nama-nama jalan yang kadang membingungkan.


Kami bersepeda dengan kecepatan sedang, sambil sesekali bercanda tawa di sepanjang perjalanan. Jalan ini termasuk ramai karena kami sering berpapasan dengan sepeda-sepeda lain. Ada yang bersepeda seorang diri, namun ada juga yang dalam rombongan seperti yang kami lakukan. Umumnya yang dalam rombongan adalah klub penggemar sepeda, atau kelurga kecil yang bersepeda bersama. Klub bersepeda sangat mudah dibedakan dari perlengkapan mereka. Mulai dari jenis sepedanya, pakaian khusus, helm pelindung kepala, tas ransel kecil, dan bahkan sepatu. Biasanya mereka ini menempuh jarak yang lebih jauh, bisa antar kota bahkan antar negara.

Ditengah perjalanan, kami berhenti sejenak di salah satu tempat yang memang khusus disediakan sebagai tempat istirahat bagi para pesepeda yang melintas. Ada tempat parkir sepeda, ada kursi dan meja kayu dan juga keran air minum. Pemandangan di titik ini sangatlah bagus, karenanya kami pun tak hanya duduk beristirahat akan tetapi juga mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Puas berfoto ria, kami lanjutkan perjalanan menuju desa Völs di tepian barat kota Innsbruck, dimana teman kami tinggal.

Pit (sepeda) stop

Tempat singgah pesepeda
Setelah sampai di perbatasan Völs, kami memutuskan untuk singgah sejenak di Flöhmarkt atau pasar loak terbesar di kota Innsbruck. Pasar loak ini digelar setiap hari minggu mulai pukul 09.00 sampai 13.00 siang harinya. Lokasi pasar ini sebenarnya adalah tempat parkir pusat perbelanjaan bernama Cyta. Nah karena pusat perbelanjaan ini tutup di hari minggu, maka area parkir dimanfaatkan sebagai pasar. Ada ratusan pedagang dadakan yang menggelar dagangan mereka setiap minggunya dengan berbagai jenis barang yang dijual. Ada barang baru, namun kebanyakan adalah barang bekas pakai dengan kondisi yang masih layak. Mulai dari pakaian, barang pecah belah, alat elektronik dan listrik, sepeda, hiasan rumah, sampai barang pernak pernik kecil seperti perhiasan antik, perangko bekas dan lain-lain. Boleh dibilang segalanya ada disini. Tentu saja karena barang bekas pakai maka harganya jauh lebih murah dibandingkan barang baru. Asal kita jeli sewaktu memilih, pastinya bisa kita dapatkan barang yang masih bagus.

Setelah melihat-lihat selama beberapa waktu, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kamipun sampai dirumah teman kami. Rumahnya merupakan satu kompleks apartemen atau kalau di Indonesia biasa disebut rumah susun. Akan tetapi rumah susun disini jauh berbeda. Bangunannya yang tidak terlalu tinggi, hanya lima lantai saja, dan juga kebersihannya yang terjaga. 
Di tepian Sungai Code Inn
Bandara Innsbruck di kejauhan
Melewati lahan pertanian


Foto: koleksi pribadi

Another sunny day




Gowes bareng teman-teman menempuh jarak sekitar 15 km, menyusuri jalanan di tepian sungai Inn. Terkadang berhenti sejenak untuk mengagumi ciptaanNya. Sungguh suatu hari yang indah :)

May 29, 2012

Suatu Senin di Ambras

Hari Senin yang lalu adalah hari libur nasional di Austria. Setelah mengantar rombongan teman-teman dari Belanda yang akan kembali ke negaranya, kamipun saling bertanya, mau kemana kita setelah ini? Kemudian muncul ide untuk mengunjungi Schloss (Castle) Ambras. Karena ada beberapa orang yang  belum pernah kesana dan tempat ini memang bagus pemandangannya, jadilah kami semua setuju untuk pergi kesana. Karena hari libur maka perkara menunggu tram pun jadi agak lama. Tapi karena beramai-ramai, waktu pun tak terasa lama karena diisi dengan bercanda satu sama lain. Kami menghabiskan waktu beberapa jam di taman sekitar Schloss, dan membawa pulang kenang-kenangan foto yangg tak terlupakan.

Salam dari kami :)

Merak penghuni taman
Bangunan utama Schloss Ambras



Lihat ke kanan

Menara di kebun belakang


Gaya apa ini ya?



Foto: koleksi pribadi